Cerita Rakyat: Anak yang Durhaka pada Ibunya
Tuesday, 25 December 2012, 7:20 | Cerita Rakyat | 0 Comment | 4289 Views
by admin
Pada zaman dahulu, di sebuah tempat di
Kalimantan, ada suatu keluarga miskin. Keluarga itu memiliki anak gadis
yang cantik jelita bernama Darmi. Dia anak tunggal sehingga dia biasa
berlaku manja. Wajah gadis itu memang sangatlah cantik, namun sangat di
sayangkan, sifatnya tak secantik parasnya, dia sangat sombong. Karena
sakit, ayah Darmi meninggal dunia.
Sejak itulah kehidupan
Darmi berubah drastis. Biasanya gadis itu selalu mendapatkan apa yang
diinginkannya karena orang tuanya selalu memberinya uang. Kini semuanya
telah berbalik. Mereka jatuh miskin dan ayah Darmi tidak mewariskan
apapun kepada mereka.
Untuk memenuhi kebutuhan
hidup mereka sehari-hari, ibu Darmi harus bekerja banting tulang siang,
dan malam. Dia bekerja sebagai buruh atau mengerjakan ladang orang
lain. Kadang-kadang orang hanya memberikan pekerjaan yang ringan
kepadanya dengan upah yang rendah. Sebaliknya, Darmi tumbuh menjadi
gadis yang sangat pemalas. Dia tidak mau membantu ibunya bekerja.
Pekerjaannya di rumah hanya bersolek (berhias diri) sesekali ia akan
keluar keliling kampung bersama teman-temannya untuk memamerkan
kecantikannya.
Suatu hari, Darmi
melihat persediaan kosmetiknya telah habis. Dia meminta uang kepada
ibunya yang baru pulang bekerja.
“Ibu tidak punya uang, Nak,” jawab ibunya.
“Ibu jangan berbohang.
Ibu selalu bekerja tak putus-putusnya, mustahil bila tidak menyimpan
uang,” kata Darmi marah.
“Uang itu untuk membeli
beras, Nak. Nanti kita tidak bisa makan,” jelas ibunya. Darmi bangkit
lalu merebut uang dari ibunya. Ibunya sangat terkejut.
“Ibu bisa mencari uang
lagi sebagai gantinya!” seru Darmi. Demikianlah kehidupan keluarga itu
sehari-hari. Ibu Darmi yang sebenarnya sangat menyayangi anaknya, kadang
tak kuasa menahan kesedihan.
Di hari lain, Darmi
meminta ibunya agar membelikan sesuatu untuknya di kota. Ibunya tidak
terlalu memahami barang apa yang dimaksud anaknya. Akhirnya mereka
berdua berangkat ke kota mencari barang yang dimaksud Darmi. Darme
berdandan secantik mungkin. Dia mengenakan pakaian terbaiknya, sedangkan
ibunya hanyalah seorang perempuan tua yang compang-camping dengan
pakaian penuh tambalan. Dalam perjalanan, Darmi merasa sangat malu
berjalan berdampingan bersama ibunya, sehingga dia sengaja berjalan
mendahului ibunya.
Di jalan seseorang menyapanya, “Darmi hendak ke manakah dirimu?”
“Aku hendak membeli sesuatu di kota,” jawabnya.
“Siapakah perempuan yang menemanimu itu?” Tanya orang itu lagi.
Darmi bimbang sesaat.
Betapa malunya jika ia mengakui perempuan gembel dan kotor itu sebagai
ibunya. “Dia pelayanku,” jawabnya angkuh.
Hati ibu Darmi sangat
terluka mendengar jawaban anaknya itu. Di sepanjang perjalanannya itu ia
terus berurai air mata.
Di kota, orang kembali menyapa anaknya, “Darmi, siapakah orang yang dibelakangmu itu?” Tanya orang tersebut.
Darmi melirik ibunya
yang bermata basah. Namun, dia tetap malu mengakui perempuan itu sebagai
ibunya. “Aku bersama pelayanku!” serunya angkuh.
Ibu Darmi semakin tak
kuasa menahan kepedihannya. Dia menangis tersedu-sedu. Melihat perempuan
itu menangis, seseorang menegur Darmi, “Hei, lihatlah perempuan yang
berada di belakangmu itu. Mengapa dia menangis?” Tanya orang itu.
Sekali lagi Darmi
melirik ibunya. Kali ini perempuan tua itu benar-benar membuatnya malu.
“Aku tidak tahu. Dia bukan siapa-siapa.” Sekali lagi dia menunjukkan
keangkuhannya.
Ibu Darmi merasakan
tubuhnya lemas tak berdaya. Dia sangat terluka karena disakita oleh
putrinya sendiri. Dia duduk tersungkur di pinggir jalan sambil berdoa
kepada yang kuasa untuk menghukum anaknya.
Tiba-tiba langit yang
cerah berubah menjadi hitam. Awan mendung bergulung-gulung ditiup angin
yang sangat kencang. Ibu Darme terus berdoa, sedangkan Darme berteriak
ketakutan.
Darmi merasakan ujung
kakinya kaku dan mengeras seperti batu, perlahan-lahan menjalar ke
seluruh tubuhnya. Darmi menjerit-jerit ketakutan. Dia memohon kepada
ibunya agar mengampuninya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Sang Ibu
hanya bisa menangis menyaksikan anak gadis semata wayangnya
perlahan-lahan berubah menjadi batu.
Setelah kejadian itu,
langit seketika cerah kembali. Orang-orang beramai-ramai menepikan batu
itu ke tebing. Batu itu terus meneteskan air mata dan tak pernah kering.
Hal itu adalah pertanda bahwa Darmi menyesali semua perbuatannya.
Menurut kamu apakah sikap Darmi baik untuk dicontoh? Jawabannya ada di
lubuk hatimu yang paling dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar